Saturday, November 15, 2014

Kicauan Seorang Bisu

Sekali pun ini adalah sebuah lembaga pendidikan yang orang biasa menyebut sekolah, sudah berubah menjadi lembaga pengajaran.

Tak usah membawa nama pendidikan kalau kalian bahkan hanya mengharuskan otak ini untuk berhitung dan menghafal. Coba lihat. Berapa anak yang mengerti? Berapa anak yang paham? Mereka hanya mngetahui tanpa tahu sebuah makna. Mereka hanyalah boneka yang kalian olok-olok memiliki otak. Sejak kapan sebuah boneka punya otak? Pikir. Kalian sendiri yang mengatakan hal itu, tak lain hanyalah boneka yang lebih besar, bukan otak.

Saya tak mau diatur oleh sebuah boneka. Saya tak mau diatur – oleh sebuah boneka yang bahkan tak punya hati tak punya otak. Ini sekolah? Oh...apa ini yang namanya replika kehidupan? Apa ini replika negera ini? Menyedihkan.

Tak hanya saya yang menganggap ini adalah sebuah kesedihan. Semua. Semua generasi muda. Tapi apa? Lihat! Mereka semua pergi! Meninggalkan kalian, yang selama ini menjadi harapan kalian. Tak perlu menyalahkan apa pun, siapa pun. Hanya sebuah pertanyaan yang perlu kita semua pahami. Apa yang terjadi sebelum ini? Apa?

Asal kita semua tahu semua ini penyebabnya. Semua ini adalah basis formalitas. Seperti itulah anak-anak yang kalian haruskan menjadi sebuah mesin. Dan sekarang mereka adalah mesinnya orang lain. Itulah boneka.

Sayang, saya lahir di sini. Besar di sini. terdidik di sini. sekali pun saya benci, sedih, marah dengan semua hal-hal ini. Tapi saya belajar dari sebuah kebenaran dan kesalahan yang ada di sini. menjadikan generasi muda yang bertanggung jawab tidak semudah yang kita semua ucapkan. Dan saya harus melakukan itu. itu sebuah keharusan yang datangnya dari hati, keharusan yang datangnya dari sebuah otak yang berpikir.

“Kreativitas anak harus didukung.”, tak usah repot-repot. Kepedulian kalian hanya terucap tanpa bukti. Seberapa banyak air mata yang saya keluarkan, kalian bahkan tak tahu. Hanya demi menghirup udara segar di luar kepenatan ini, kalian bahkan perlu dibayar untuk itu. malu. 

Bagi kalian prestasi adalah sebuah nilai dalam bentuk angka, sebuah benda dalam bentuk piala, sebuah pencitraan yang sebenarnya hanya terpampang di wajah saja. Sekali pun penilaian moral itu berbentuk angka, mungkin kalian juga tidak akan pernah tau.

Saya berubah, teman-teman saya berubah. Kami keras, kami melawan. Semua itu ada sebab akibat, bu, pak. Kalian sendiri yang pernah mengatakan itu. jangan terlihat terlalu bodoh depan kami. Nanti kalian tambah malu.

“Rata-rata orang dewasa jaman sekarang”, itu adalah hal yang sering saya sebut-sebut. Tau apa? “Memerhatikan – tidak. Terima beres – iya.”

Saya takut? Tidak. Kalau kalian pikir saya berubah. Kalian salah besar. Ini hanyalah sebuah keberanian untuk menyampaikan ketidakbenaran. Saya tidak peduli karena kalian bahkan juga tidak peduli telah membohongi saya.

Mungkin kalian pikir saya selalu duduk di kursi itu dengan pandangan kuda. Tapi sebenarnya, saya selalu membawa kursi itu mengelilingi setiap celah. Busuk, pahit, bodoh.


Saya mengetahuinya.
dan sebentar lagi....

kalian akan melihat, mendengar, merasakan semua akibatnya.


14 ‎November ‎2014, ‏‎12:26:09

No comments:

Post a Comment