Sekali pun ini adalah sebuah lembaga pendidikan yang orang
biasa menyebut sekolah, sudah berubah menjadi lembaga pengajaran.
Tak usah membawa nama pendidikan kalau kalian bahkan hanya
mengharuskan otak ini untuk berhitung dan menghafal. Coba lihat. Berapa anak
yang mengerti? Berapa anak yang paham? Mereka hanya mngetahui tanpa tahu sebuah
makna. Mereka hanyalah boneka yang kalian olok-olok memiliki otak. Sejak kapan
sebuah boneka punya otak? Pikir. Kalian sendiri yang mengatakan hal itu, tak
lain hanyalah boneka yang lebih besar, bukan otak.
Saya tak mau diatur oleh sebuah boneka. Saya tak mau diatur
– oleh sebuah boneka yang bahkan tak punya hati tak punya otak. Ini sekolah?
Oh...apa ini yang namanya replika kehidupan? Apa ini replika negera ini?
Menyedihkan.
Tak hanya saya yang menganggap ini adalah sebuah kesedihan.
Semua. Semua generasi muda. Tapi apa? Lihat! Mereka semua pergi! Meninggalkan
kalian, yang selama ini menjadi harapan kalian. Tak perlu menyalahkan apa pun,
siapa pun. Hanya sebuah pertanyaan yang perlu kita semua pahami. Apa yang
terjadi sebelum ini? Apa?
Asal kita semua tahu semua ini penyebabnya. Semua ini adalah
basis formalitas. Seperti itulah anak-anak yang kalian haruskan menjadi sebuah
mesin. Dan sekarang mereka adalah mesinnya orang lain. Itulah boneka.
Sayang, saya lahir di sini. Besar di sini. terdidik di sini.
sekali pun saya benci, sedih, marah dengan semua hal-hal ini. Tapi saya belajar
dari sebuah kebenaran dan kesalahan yang ada di sini. menjadikan generasi muda
yang bertanggung jawab tidak semudah yang kita semua ucapkan. Dan saya harus
melakukan itu. itu sebuah keharusan yang datangnya dari hati, keharusan yang
datangnya dari sebuah otak yang berpikir.
“Kreativitas anak harus didukung.”, tak usah repot-repot.
Kepedulian kalian hanya terucap tanpa bukti. Seberapa banyak air mata yang saya
keluarkan, kalian bahkan tak tahu. Hanya demi menghirup udara segar di luar
kepenatan ini, kalian bahkan perlu dibayar untuk itu. malu.
Saya berubah, teman-teman saya berubah. Kami keras, kami
melawan. Semua itu ada sebab akibat, bu, pak. Kalian sendiri yang pernah
mengatakan itu. jangan terlihat terlalu bodoh depan kami. Nanti kalian tambah
malu.
“Rata-rata orang dewasa jaman sekarang”, itu adalah hal yang
sering saya sebut-sebut. Tau apa? “Memerhatikan – tidak. Terima beres – iya.”
Saya takut? Tidak. Kalau kalian pikir saya berubah. Kalian salah
besar. Ini hanyalah sebuah keberanian untuk menyampaikan ketidakbenaran. Saya tidak
peduli karena kalian bahkan juga tidak peduli telah membohongi saya.
Mungkin kalian pikir saya selalu duduk di kursi itu dengan
pandangan kuda. Tapi sebenarnya, saya selalu membawa kursi itu mengelilingi
setiap celah. Busuk, pahit, bodoh.
Saya mengetahuinya.
dan sebentar lagi....
kalian akan melihat, mendengar, merasakan semua akibatnya.
14 November 2014, 12:26:09
No comments:
Post a Comment