Senin, 8 Desember 2014 ; 11:23 ; Perpustakaan SMAN 70
Jakarta
Hari ini sangat disayangkan gue........hanya baru bertemu
dengan Sarita dan Ai. Dinda entah bakal dateng ke sekolah atau tidak, tapi gue
pengen ketemu sebenernya.
Tujuan gue dateng ke sekolah hari ini sebenernya ya cuma
buat ngelengkapin tugas-tugas aja dan laporan ke guru yang udah ngasih
tugas-tugas (seabrek) itu. dan........it’s done!
Dari kemaren (dan sebelum-sebelum ini) gue memang adalah
sosok yang tidak pernah mempersilakan emosi gue yang memimpin diri gue. Karena
gue tau di luar sana masih banyak banget pekerjaan-pekerjaan yang gue harus
berpikir jernih untuk mengerjakan itu. gue (memang) selalu mengesampingkan
amarah, sedih, bahagia gue untuk mengerjakan sesuatu. Fokus.
Tapi ada kalanya ketika gue sedang dalam keadaan......apaya?
emosi emang gak bisa lama-lama dipendam. Dan.....WALAAA! meledak pada saat-saat
tertentu. Dan gue bukanlah orang yang meledak setiap saat. Gue cuma meledak
sekali. Itu karena......sudahlah, hal itu kondisional dan.....parah. Cuma
sekali.
Gue tidak pernah memberi waktu dan mengizinkan emosi gue
untuk keluar karena gue tau hal itu sangat membuang waktu (di saat masih banyak
pekerjaan yang menumpuk di sana). Tapi hari ini, gue cukup senggang
dan.......saudara gue juga punya waktu senggang untuk mendengarkan emosi gue
ini.
Untuk hari ini. Gue ngizinin diri gue buat berkenalan dengan
emosi gue. Berhenti memadamkan api dan membiarkan api itu nyala sampai nanti
akan padam sendiri. Gue tidak mengenal diri gue di saat-saat seperti ini. Sama
sekali gak kenal. Tapi......lucu juga ketika gue mikir kalau “hahaha ternyata
beginilah gue,”.
Hari ini gue mengizinkan diri gue karena gue tau ada orang
yang mau memahami (gak cuma dengerin), or we can say that dia jugalah yang
berjuang bersama gue, dia juga ngerasain hal itu, dan dia yang bakal ngasih
pager buat gue kalau-kalau gue kelepasan.
Hebat. Mereka itu hebat. Di luar sana itu pahit. Ngomong
sama batu dan di saat bersamaan.....kami dilemparkan batu. Mereka hebat.
Chandra Purnama. Kalian kenapa mau sih dilempar batu? Selama ini gue pribadi
gak penah ngerasain bener-bener gak enaknya dilempar batu segitunya.
Sampai akhirnya gue sadar kalau batu itu tidak seharusnya
dilemparkan ke sini. ke arah kami. Ke gue. Kita gak bisa nyalahin batu yang
pada dasarnya emang udah keras. Ketika pelempar batu gak terima kalau kami
tidak bisa membuat sebuah batu berbicara.
Sudah sejauh ini kenapa tidak kamu saja yang coba berbicara
dengan batu itu? mungkin nantinya dia bisa berbicara ketika kamu yang angkat
bicara dengannya. Walau pun sudah terlanjur berlumuran darah. Tak apa. tak ada
kata percuma. Malah ucapan terima kasih yang terus mengalir. Kami belajar
banyak. Belajar dari cara yang
menyulitkan.
“Maaf,”. Cuma itu yang bisa gue ucapin buat semuanya.
Termasuk saudara-saudara gue yang tahu bagaimana gue saat menyempatkan diri
untuk berkenalan dengan emosi gue. Kalian malah memeluk gue seakan sudah kenal
dekat dengan gue yang seperti itu. kenapa sih kalian?
Mungkin kami terlihat tau banyak hal. Mungkin kami terlihat
bisa menjawab segala pertanyaan. Tapi kalian juga harus tau. Kami adalah orang
yang tak pernah berhenti bertanya. Kami bertanya hingga kami marah, nangis dan
tertawa karena masih saja belum menemukan sebuah jawaban.
Kenapa sih?
Gue mau nanya buat CP.
Kenapa kalian tau gimana gue marah?
Kenapa kalian tau gimana gue nangis?
Kenapa kalian tau gimana gue ketawa?
Kenapa kalian tau pasti?! Bukan tau persis ya. Tapi tau
pasti.
Kenapa kita milih untuk dilempar batu berempat?
Kenapa kita mau sama-sama?
Kenapa kita.....bukan......
Maksud gue....kalian.....
Kenapa kalian mau digituin sih?!
Kenapa kalian mau, masih mau meluk gue padahal tulang-tulang
kalian udah patah?
Dan kenapa kalian bisa membuat gue gak peduli di kata gila?
Kenapa keberadaan kalian itu membuat gue gak peduli apa kata
orang?
Gue mikirin kalian aja, Cuma dipikiran ya......
Gue gak peduli mereka bilang gue apa. terserah. Mau gue
tiba-tiba nangis, gue marah-marah sendiri, bahkan ketawa sendiri.
Pew. Lo semua tuh sok tau gak. Kalau gak kuat tuh bilang!
Entah kenapa kalian memilih untuk menyusun lagi tulang-tulang yang udah rusak
itu. Gak ngerti lagi kalian tuh kenapa?
Gue kasih tau ya, wonder woman bukan, superman? Bukan juga?
Terus apa?
Gue kesal. Bukan menyesal.
Perlu kalian sadari, sekarang apinya udah padam sendiri.
Udah gak bisa nyalain api. Diguyur hujan. Terus lucunya kalian juga nambahin
bunga-bunga diantara hujan.
Dan sangat disayangkan ternyata kita masih menemukan jaminan.
kita emang gak kuat. Tapi ilmu bertahan hidup itu benar-benar ada. Gue percaya.
Darah-darah itu bakal luntur diguyur hujan. bunga itu yang mengalirkan
keinginan berani hidup.
Sekali pun gak kuat......
Maaf banget, tapi di luar sana terlalu banyak tuntutan.
maaf. Karena gue ingin menuntut satu hal. Maaf, hanya satu hal........dengarkan
satu hal......
“Jangan nyerah ya,”.
No comments:
Post a Comment