Tuesday, June 2, 2015

gambling

buat gue mendidik seseorang atau sesuatu itu gambling. banyak faktor yang membuat gue bisa bilang begitu. salah satunya adalah mendidik itu bukan masalah benar atau salah tapi tepat atau tidaknya.

dilema ya hehe

gue rasa karena waktu terus bergulir.......gak ada saatnya buat coba-coba. spontanitas, frontal, kalo pun kita bilangnya "mencoba" dengan suatu metode dan ternyata tidak berhasil? trial and error. sedangkan kita berkejar-kejaran dengan waktu yang kemudian kita membuat sebuah deadline di dalamnya. nyesek juga.

dalam mendidik banyak kok orang, termasuk gue yang kadang merasa "metode yang gue punya itu paling bener". tapi bicara lagi soal kenyataan kalau ternyata tidak sesuai ekspekatasi alias cara kita ternyata kurang tepat untuk orang itu? yah, mendidik itu sulit. karena di satu sisi sebenernya kita tidak hanya mengajarkan atau mendidik satu arah. tapi juga berusaha mendidik diri sendiri. berpikir keras "caranya untuk mendidik itu gimana sih?"

buat gue sekarang itu menyebut suatu didikan gagal atau salah maupun menyebut suatu didikan itu benar secara teori dan metode itu berat. ada orang yang bisa dididik secara halus ada juga orang yang emang harus dikasarin selama pendidikan berlangsung. waktu sempit, dan kita harus tau karakter "setiap orang" dalam menerima suatu hal sehingga dari sekian cara yang kita punya kita bisa memilih yang tepat. dan bahkan bicara karakter, artinya orang yang mendidik pun berarti harus memiliki segala karakter juga untuk bisa mendidik bermacam-macam karakter dan menyesuaikan dengan karakter yang sedang dihadapi. impossible buat gue. setiap manusia yang gue tau dianugrahkan suatu karakter yang spesifik. makanya ada istilah jadi diri sendiri.

balik lagi, masalah cocok gak cocok bukan?

mungkin cara mendidik itu terlalu luas sebenernya karena ada banyak cara. jadi gue akan coba meng-convert ke dalam dua hal. apresiasi dan evaluasi.

di sini gue membuat analogi. kita memiliki air 90 liter. kemudian suatu kondisi menuntut kita untuk bisa menuang ke wadah 100 liter.

apresiasi:

wadah itu hampir penuh. dipuji dong........karena kita hampir berhasil mengisi penuh wadah tersebut.

evaluasi:

gak selamanya kita berada dalam wadah yang membuat kita merasa "ada wadah yang menyesuaikan dengan literan air yang kita punya". karena suatu saat tanpa pernah bisa diekspektasi ternyata air yang kita punya akan dipindahkan ke wadah 200 liter. satu-satunya cara adalah menambah air yang kita punya sehingga ketika dipindahkan, minimal, wadahnya hampir terisi penuh di dalam wadah 200 liter.

so, evaluasi memang selalu LEBIH BANYAK dari apresiasi. pertanyaan gue, menurut lu cara mendidik itu harusnya yang gimana?

apresiasi atau evaluasi?

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

perspektif orang berbeda. 

karakter orang berbeda.

sebagian orang ketika diapresiasi memilih untuk "ah gue bisa nih buktinya! selanjutnya gue pasti juga bisa!" termotivasi, atau "yaudah gue sampe sini aja, toh udah dipuji ini." terlena dan biasanya yang kayak gini siap-siap untuk tertekan secara mendadak.

sebagian orang ketika dievaluasi memilih untuk "segitu banyaknya kekurangan gue? liat aja, gue bakal buktiin kalau gue bisa terus menambah ilmu gue." termotivasi, atau "separah itu ya gue? serius gue gak bisa apa-apa? yaudah deh, emang gue pengecut." malah menjatuhkan diri sendiri.

terus? ya gue mulai bingung dengan hal ini.

gue pernah disindir kok karena gue melakukan evaluasi ke salah satu orang yang bisa dibilang sedang gue didik. kemudian ada seseorang yang melakukan apresiasi dan dia bilang "evaluasi jangan terus-terusan, apresiasikan saja mereka, cukup."

gue gak bilang gue salah, gue juga gak bilang dia salah. hanya saja, setelah hal itu terjadi gue akhirnya mengerti apa yang sebenernya dibutuhkan.

Keseimbangan.

jalankan evaluasi kemudian apresiasi, dengan persentase 50% setiap aspek. karena di dalam apresiasi dan evaluasi, selalu ada motivasi dan tekanan - tergantung mereka yang mencerna hal itu. motivasi selalu bersanding dengan tekanan. untuk saat ini itu yang gue rasain. dan kadang membuat motivasi dan tekanan datang dari satu orang, balik lagi setiap orang dianugrahkan satu karakter spesifik. yang artinya harus bermain peran. setiap peran bukan untuk saling menjatuhkan dan merasa cara siapa yang paling tepat, karena semua itu hanya soal "saling melengkapi".

tambahan:

gue juga pernah dibilang "kalau memberi tahu orang, jangan menggurui.", tabu.
bahkan orang yang menyebutkan kalimat itu, sebenarnya sedang menggurui. setiap orang yang memberikan sesuatu secara verbal, pasti ada benih-benih menggurui. gak mungkin gak.




sekian pandangan saya tentang mendidik itu gambling

No comments:

Post a Comment