Wednesday, June 14, 2017

Surat untuk Masa Lalu

aku rasa gak ada salahnya sih menulis sebelum bekerja
pekerjaanku pun sebenarnya juga sebagian besar adalah menulis
beberapa hal yang selalu ku pertanyakan adalah tentang di mana nyawa tulisan-tulisan yang aku buat terutama dalam konteks pekerjaan
semenjak itu pun jadi sering berangan-angan hal yang aneh dan rasanya gak mungkin
semenjak itu pula aku kayaknya melupakan banyak hal
lupa mana yang pernah terjadi dan mana yang belum terjadi
semanjak itu juga aku selalu bertanya seberapa pentingnya diakui, seberapa pentingnya keberanian, seberapa pentingnya idealisme
kadang agak bodoh sih nanyain hal yang udah jelas pernah terjadi dikehidupanku
beberapa lapisan atmosfer yang pernah aku lewatin dan rasanya gak berubah
rasa itu muncul secara tiba-tiba bahkan persis ketika aku membuka mata
detik ini pun aku merasa ada di tempat ketika masih bisa guling-guling di rumput, main hujan-hujanan, pakai kaos kaki hitam dan dimarahin karena itu, perosotan dipinggir tangga, apa pun itu yang aku menyebutnya ‘rasa liburan’
ada rasa senang sekaligus sedih karena aku bisa merasakan seberapa hal itu terpojokkan saat ini
aku tahu hidup ini dinamis, adaptasi selama kau bisa dan kalau ingin bertahan
tapi pada akhirnya aku mulai menimbang dan memerhatikan, aku gak terlalu suka mengatakan hal ini tapi aku tahu persis mana yang sebenarnya diriku
bukan karena siapa orang yang ku hadapi, tapi di masa apa dan semangat seperti apa
aku punya beberapa penyataan yang secara gamblang aku bisa menyebutnya di masa lalu dan tidak di masa sekarang
ah….aku bukan ngeluh loh ya
aku hanya ingin menjadi dia yang jauh di dalam sana ada sosok penakut
sampai dia lupa akan pentingnya pengakuan, lupa seberapa berani dirinya, dan seberapa kuat pengetahuannya akan dirinya
karena pada dasarnya mereka mengakui orang penakut yang pelupa
aku hanya ingin menjadi dia
yang mencintai peperangan untuk memperjuangkan waktu dan selalu tertutupi gelap dihadapannya
karena pada dasarnya hanya dirinya yang tahu dirinya

untuk mu yang aku angan-angankan menjadi dirimu. bantu aku menjadi dirimu, bantu aku sampai tak ada lagi batas untukku mengatakan bahwa ‘kita’ adalah hal yang berbeda

catatan
harapanku besar kepadamu. lihat seberapa berbedanya diriku kan. aku tak memintamu mengambil hal yang baru ku punya, tapi kembalikan yang semestinya jadi milikku

No comments:

Post a Comment