ini cerita gue ketemu sama seseorang
jadi dia ini lagi perang sebenernya. gue memerhatikan dia dari sejak gue sma sampe sekarang, dia gak berenti perang ternyata. bahkan dia pernah perang sama gue! tanpa gue sadari, bahkan mungkin sampai sekarang.
well, medan perang dia berat, sangat berat, kayak gak mungkin dia bakal bertahan. dan anehnya sampe detik ini dia bertahan. gue amaze banget dan lambat laun, seiring Tuhan memberikan gue beberapa ilmu-Nya, ternyata gue mulai memahami beberapa hal yang dia perangi, makanya gue bisa bilang dia perang sama gue juga.
dia perang sama ketamakan penghuni bumi, dia perang sama orang buta, dia perang sama robot yang gak punya nyawa dan menyerahkan diri sepenuhnya pada sistem. dan salah satunya gue. hal yang gue sadari juga bahwa dia perang bukan untuk melukai.
sampe akhirnya gue datengin sendiri dia, yang biasanya dia yang selalu menghampiri orang-orang, tapi gak terlalu paham sama kehadiran dia. emang ada rasa takut di awal, gue takut dijudge, gue takut direndahkan, gue takut sama dia yang sepertinya merasa tinggi di atas ketamakkan orang-orang. tapi gue mengurungkan niat buat takut, toh buat apa dia memerangi hal itu kalo dia sendiri pun juga begitu. buat apa dia perang sama ketamakan, keegoisan orang-orang kalo dia sendiri malah sombong atas perang yang dia usahakan itu.
fyi, kayaknya yg seumuran gue pun gak banyak yang mau ngomong sama dia. kalau kalian tau, dia tuh literally 'galak' kalau ngasih pandangan tentang hal yang dia perangi, sampe akhirnya ada yang merasa 'oh' ada yang 'penasaran', tapi kebanyakan 'bodo amat', i really know dat. sejak gue sma, ritme dia membahas topik itu gak berubah. tetep galak dan bikin muka anak-anak seangkatan gue dan sekitarnya jadi 'males'.
gue pun berani. gue gatau apa yang membuat gue berani.
obrolan gue diawali dengan hal-hal receh yang tidak disengaja. gue sok sok join bareng intinya.
sampe akhirnya naninu naninu, gue mengarahkan pembicaraan gue tentang 'ketamakan dan keegoisan'. in the end, gue cuma ngobrol bedua doang, tadinya berempat wkwkw.
oke, kita buka apa isi omongannya.
gue bisa bilang dia aktivis.
bisa gue bilang yang berpihak pada dia pun dikit banget.
banyak yang dia korbanin.
hei tau sesuatu gak
dia cuma secuil manusia diantara sebongkah besar manusia yang bahkan perang sama dia. sistem yang supeeer tidak bisa diutak-atik ini, dia perangin. well gue selalu kaget kenapa dia seberani itu.
pada akhirnya dia pernah nanya ke gue, apa yang mau gue lakuin.
gue jawab 'gue mau ngasih'
dia bilang 'apa yang mau lu kasih, kekuatan apa yang lu punya'
gue diem
until he said that 'mungkin gue banyak menghabiskan harta dan waktu bukan buat gue sendiri, gue sedih? gak sama sekali. ketika gue bisa mengurus satu desa, artinya gue bayar utang gue. hidup gue di sini ngutang, gue ngutang sama orang banyak.' dan dia bilang ini sambil senyum.
sedihnya lagi buat gue, dia bilang 'gue gak punya apa-apa, darah gue punya Tuhan, harta gue punya Tuhan, hidup gue punya Tuhan. Jadi apa kekuatan gue?'
gue masih diem
.
.
.
.
.
"Percaya."
'gue perang di sini, di medan perang gue sekarang, ya gue kalah kok. gue udah pasti kalah.'
-cry until die-
.
.
.
.
hal yang perlu gue gambarkan juga di sini, dia gak bilang hidup siapa pun salah - tapi apa yang dia jalanin adalah hidup dia, kalo ternyata seseorang memilih untuk jadi seorang karyawan dan bekerja untuk perusahaan yang katanya banyak isu melakukan kerusakan, ya kalau itu hidup dia yasudah. bahkan kerusakan pasti ada. lakukan yang lu percaya - kata dia itu
menanggapi 'kekalahan' yang hakiki itu
gue gatau literally mau nangis huhu baper ya
dia gak judge gue sama sekali sampe pada akhir pembicaraan, dia senyum selama dia menyampaikan isi hatinya, dia bilang kalah tapi dia gak takut, dia percaya sama hidup dia, dia percaya sama yang dia lakuin.
buat alumni SISGAHANA yang satu ini, maaf aku gak mau sebut orangnya.
boleh gak aku bilang orang yang percaya itu yang menang?
boleh ya?
lu pemenang banget soalnya wkwk
keren!
No comments:
Post a Comment